Artikel

Gelas Setengah Kosong Pendidikan Triple Helix

   Triple Helix atau sinergi antar pemerintah-kampus-industri yang diperkenalkan Etzkowitz pada 1993 menjadi wacana yang digaungkan pemerintah belakangan ini. Namun, alih-alih ingin mendekatkan masyarakat pada kenyataan sosial, triple helix juga bisa menjauhkan kita dari paradigma pendidikan yang lebih luas. Seperti gelas setengah isi, triple helix juga bisa dilihat sebagai gelas setengah kosong.

   Untuk pendidikan yang memang menghasilkan keluaran dalam bentuk inovasi teknologi, triple helix bisa menjadi jawaban. Misal di Bali, konsep Triple Helix digunakan untuk meningkatkan varietas sapi bali yang dipersiapkan sebagai tenak berkualitas tinggi. Di Surabaya, Pemerintah Kota bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa agar tercipta lulusan yang dapat diserap pasar tenaga kerja. Selain itu, beberapa universitas di Indonesia pun telah membangun kolaborasi ini dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan demi terciptanya link and match.

   Namun, di mana posisi ilmu-ilmu humaniora, sosial, politik, bahkan agama? Di sinilah letak gelas setengah kosong triple helix. Pemerintah kita gandrung dengan adagium Industry 4.0, Society 5.0, dan sejenisnya. Tidak masalah. Namun, paradigma pendidikan harus dipahami lebih dari itu. Ruang-ruang budaya, seperti teater, komunitas, hingga pemberdayaan kearifan lokal juga tidak boleh ditinggalkan. Perguruan tinggi bukan hanya menyediakan supply dan demand industri, tetapi juga dituntut memecahkan kesenjangan bangsa dengan pendekatan-pendekatan yang lebih luas.

   Perlu diingat, Triple Helix Etzkowitz telah menghasilkan modifikasi yang lebih kompleks dan bisa jadi alternatif lain kita, yaitu Quadruple Helix dan Quintuple Helix. Kedua konsep itu, selain mensinergikan pemerintah dan industri, juga melibatkan knowledge society, knowledge democracy, media-based, culture-based public, dan natural environments of society. Semoga pemerintah tidak berhenti pada triple helix dan melihat kemungkinan pilihan lain ini.

M. Fakhri Al-kahfi/Savran Billahi (PPI Turki)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *